Ini disebabkan mungkin pada waktu itu santri pendatang masih sedikit atau belum ada sama sekali santri pendatang, yang ada kebanyakan masih keluarga dan tetangga terdekat. Kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada pendidikan dan pengajaran mengaji al-Qur’an dan latihan kanuragan. Masa ketidakjelasan pondok pesantren itu berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Dan mulai tahun 1987 atas inisiatif dan prakarsa Kyai Mufid Syafi’i (salah seorang cucu Kyai Sima) dimulailah pembenahan dan perintisan keberadaan pondok pesantren itu kembali pengajian di pesantren lebih diintensifkan. Pada tahap perintisan ini kegiatan belajar mengajar di pesantren As-Syafi’iyah diikuti santri yang berasal dari desa setempat bahkan dari luar desa Wates. Secara ruitn setiap hari setelah sholatmaghrib santri yang belajar dari kelompok anak-anak remaja. Sedangkan setiap satu minggu sekali hari jum’at malam sabtu dilaksanakan pengajian rutin bagi ibu-ibu, dan setiap hari minggu pagi setelah sholat Shubuh khusus pemuda dan bapak-bapak. Seluruh pelaksanaan kegiatan mengaji itu dipusatkan di pesantren.
Keadaan itu perlahan-lahan berkembang dengan cepat, kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren As-Syafi’iyah diikuti santri maupun jamaah yang tidak terbatas dari desa setempat, tetapi juga santri dan jamaah dari desa-desa lain yang berada diwilayah kabupaten Sidoarjo bahkan santri yang berasal dari luar kota. Tepat pada bulan September 1987 secara resmi berdirilah pondok pesantren As-Syafi’iyah, diasuh langsung oleh KH. Mufid Syafi’i. Pesantren ini terletak di dusun Wates Kedensari Kecamatan Tanggulangin. Pesantren tersebut meliputi tiga lokal bangunan sederhana yaitu ruang asrama santri, ruang belajar dan aula. Sebagai pesantren kecil dan sederhana, maka sarana fisik dan prasarana pendukung kegiatan belajar masih terbatas.








0 comments:
Posting Komentar